Tafsir Sosial Puasa

OLEH

Achmad Faizal

Jelang-Ramadhan-Muncul-Meme-Kocak-Iklan-Sirup-3.jpg

Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat islam. Disebut istimewa sebab        di dalamnya terkandung berbagai keutamaan dan kemuliaan  yang tidak akan dijumpai di luar bulan ramadhan. Diantara keutamaan bulan ini yakni dosa-dosa digugurkan dan pahala dilipatgandakan. Bulan ini juga disebut syahrul qur’an karena pada bulan ini diturunkannya Al-Quran dan dihadiahkannya malam kemuliaan (lailatur qadr).  

Visi utama yang diusung bulan ini adalah mencetak hamba hamba yang bertaqwa sebagaimana yang telah dijanjikan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Menurut Imam Sa’di bahwa puasa adalah faktor terbesar untuk menyabet gelar taqwa sebab dengan berpuasa, individu muslim dituntut untuk mampu melaksanakan apa apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa apa yang dilarang-Nya.

Kehadiran bulan ramadhan dapat menjadi madrasah bagi segenap individu muslim guna memperbaharui kualitas diri baik dari dimensi spiritual, emosional maupun sosio – kultural. Di dalam bulan ini, individu muslim dituntut tidak hanya sekedar meningkatkan kualitas keshalehan individu namun juga mampu mewujudkan keshalehan sosialnya.

Namun fenomena yang masih sering ditangkap bahwasanya sebagian individu muslim masih terjebak pada formalitas ritual ibadah saja. Seperti puasa misalnya, ia hanya dipraktikan tak ubahnya seperti definisi puasa ala buku- buku sekolahan, menahan lapar dan dahaga, serta tidak bersenggama dengan pasangan. Sungguh tepat peringatan nabi SAW dalam sabdanya bahwa “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” [1]

 Puasa dan Ketaqwaan Sosial

Visi utama dari puasa adalah ketaqwaan. Manifestasi dari ketaqwaan yang jamak dipahami umat adalah sebuah upaya peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah “mahdha” saja seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah ibadah tersebut yang akan menjadi tolak ukur untuk menjustifikasi apakah individu muslim telah sukses memanfaatkan bulan ramadhan tersebut dengan maksimal atau tidak. Tetapi apakah hal tersebut sudah final untuk menilai keberhasilan seorang muslim dalam mencapai derajat taqwa ?

Moeslim Abdurahman (2003) menjabarkan definisi taqwa yang melampaui kualitas spiritual an sich. Ia menilai bahwa ketaqwaan seharusnya mampu memancarkan ideologiekritik, yakni mampu menegakkan tatanan sosial yang adil, memihak terhadap kaum subordinat serta peka terhadap ketimpangan sosial. Sehingga dengannya, tidak hanya sekedar penanaman keshalehan ritual tetapi mampu membongkar proses dehumanisasi.

Taqwa sebagai visi utama puasa ramadhan tidak berhenti pada pencapaian kualitas spiritual saja.  Tiap individu muslim hendaknya mampu mentransformasikan nilai ketaqwaan tersebut kedalam berbagai sendi-sendi kehidupan yang lebih luas. Sehingga fungsi agama sebagai ideologiekritik mampu dirasakan oleh orang-orang yang sebentar lagi menjual agamanya demi sesuap nasi.

Puasa ramadhan pada hakikatnya menyimpan dimensi ideologiekritk. Salah satu hikmah sosiologis puasa adalah melatih kepekaan sosial. Di balik rasa lapar dan dahaga yang menyerang, seorang muslim hendak diajarkan untuk berverstehen (menempatkan diri) pada posisi kaum mustad’afin yang hampir tiap hari bergulat dengan perihnya lambung mereka menahan lapar. Kemudian puasa juga menanamkan sifat kejujuran dan keberpihakan. Seorang muslim ingin dilatih agar tidak mudah korupsi dan eksploitasi antar sesama, mengobral “hukum” demi kepentingan penguasa dan pengusaha, serta menjarah tanah yang bukan haknya.

Puasa dan Konsumerisme

Nabi SAW telah mewanti wanti kepada kita umat islam agar mampu mengontrol hawa nafsu dan demikianlah tujuan utama dari puasa. Beliau bersabda “.Tidaklah ada kantung yang lebih buruk untuk engkau penuhi dibanding perutmu sendiri. Sejatinya engkau cukup memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang rusukmu. Andai engkau tetap ingin makan lebih banyak maka cukuplah engkau memenuhi sepertiga perutmu dengan makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk ruang pernafasanmu.”[2]

Lantas fenomena apa yang kita jumpai tatkala waktu berbuka puasa tiba ?. Hidangan berbagai makanan lezat dan minuman segar berbaris rapi hendak menggoda syahwat. Serasa ingin melahap habis segala hidangan yang ada demi memuaskan dendam lambung yang tak terisi selama kurang lebih 12 jam. Namun telah menjadi pengetahuan umum jika meneguk segelas air dan menguyah 3 buah kurma atau kue telah cukup untuk menegakkan tulang rusuk kita.

Hal yang kontradiktif tatkala puasa membawa misi pengendalian nafsu namun diamalkan dengan tindakan yang menipu. Batas pengendalian nafsu rupanya hanya dipahami sekedar antara sahur hingga berbuka puasa, diluar waktu itu, maka individu muslim seolah diberi kebebasan untuk melampiaskan keberingasan hawa nafsunya. Melahap apa saja, berat badan tak jadi masalah.

Kemudian hal yang lumrah dijumpai selama ramadhan selain menjamurnya penjual makanan adalah mewabahnya toko toko pakaian. Celakanya karena sampai ikut memadatkan pekarangan – pekarangan masjid yang notabenenya difungsikan sebagai tempat ibadah. Boleh jadi jika sebagian individu muslim memaknai kegiatan berbelanja pakaian saat bulan ramadhan sebagai “ibadah” tambahan.

Menurut Subandy (Chaney, 2011) bahwa simbol simbol dan ikon yang diyakini sebagai artefak ketaqwaan seseorang telah terkomodifikasi menjadi objek konsumsi. Tak heran jika kita menyaksikan bulan ramadhan layaknya sebuah “festival konsumsi”. Semangat beribadah ternyata berbanding lurus dengan semangat konsumsi yang justru dimanfaatkan dengan baik oleh industri iklan dan televisi demi meraup keuntungan semata.

Pertanyaan mendasar adalah apakah puasa memiliki kepekaan untuk menjawab timbulnya masyarakat konsumsi hari ini. Jika puasa dimaknai sekedar proses menahan lapar dan dahaga tanpa menyematkan ideologiekritk maka barang pasti ia tidak mampu bersaing dengan ideologi iklan dalam merebut kesadaran umat.   

-Dimuat di Harian Fajar, edisi Sabtu, 27 Mei 2017.

Bahan Bacaan :

[1] HR. Ath Thobrani. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya

[2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (3349), Al-Hakim (IV/121). Lihat Irwaa-ul Ghaliil (1983) karya Syaikh Albani.

  • Abdurahman, Moeslim. 2003. Islam sebagai kritik sosial. Jakarta : Erlangga.
  • Chaney, David. 2011. Lifestyle sebuah pengantar komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra.