Filosofi Kerja Yang Membebaskan

Oleh : Achmad faizal

 

Arbeit macht frei”, [ kerja membuatmu bebas ].

Demikianlah slogan yang tertulis di pintu gerbang kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Polandia. Sebuah seruan moral yang terinspirasi dari novel Jerman karya Lorenz Deifenbach yang kemudian digunakan oleh elit Nazi untuk mempropagandakan semangat para tahanan Yahudi agar mau berkerja (paksa) sebagai cerminan kebebasan. Lantas bagaimana sesungguhnya kerja yang membebaskan itu ?. Apakah seorang buruh/pekerja dapat mewujudkannya ?

Secara konseptual, buruh/pekerja adalah orang yang bekerja untuk majikan dan mendapat upah dari kerjanya. Maka dalam konteks masyarakat modern hari ini yang cukup sarat oleh spesialisasi pekerjaan dan beragamnya peristilahan yang disematkan, tidaklah mengaburkan secara subtansial untuk mengelompokkan mereka kedalam kelas buruh. Mulai dari tukang sapu jalanan, karyawan perhotelan, pegawai perbankan, hingga arsitek pembangunan, semuanya adalah buruh dalam levelnya masing – masing.

Dalam perkembangannya, ada dua tipikal buruh/pekerja yaitu orang yang bekerja sebagai upaya bertahan hidup (work as a job) dan orang yang bekerja sebagai panggilan hidup (work as a calling).  Pada tipe yang pertama, mereka hanya berorientasi bagaimana cara menghasilkan upah demi memenuhi hajat hidup. Sementara tipe yang kedua, selain memikirkan cara memperoleh upah, juga memikirkan apa makna dari pekerjaan yang sedang ia jalani. Proses pemaknaan ini sifatnya immaterial dan output yang dihasilkan dapat berupa kepuasan, kebahagiaan atau justru sebaliknya kesengsaraan.

Terang, kesuksesan pekerjaan seseorang semestinya tidak melulu dinilai dari seberapa banyak upah yang ia peroleh, tetapi seberapa bahagia jiwanya dalam menyelesaikan tupoksinya. Bukankah dibalik ketekunan dan komitmen orang Jepang dalam bekerja terdapat indeks bunuh diri yang cukup tinggi disebabkan oleh rutinitas kerja yang menjenuhkan sarat tuntutan ?. Oleh sebab itu, kerja bukan hanya tentang upah yang melimpah, tetapi mesti ditopang oleh jiwa yang merdeka.

Kerja dan Proses Pemaknaanya

Menurut Frans Magnis Suseno (2009) bahwa refleksi filosofis tentang kerja dapat ditemukan sejak 2400 tahun yang lalu.  Pada masa itu, Hesiodotus menulis sebuah puisi tentang kerja yang berjudul work and days (versi inggris) yang didalamya ia merefleksikan bahwa kerja adalah hakikat dari kehidupan manusia. Bergeser ke masa teologi Romawi, abad pertengahan, para Rahib Benedictus merefleksikan kerja sebagai sesuatu yang suci dan bentuk pengabdian. Selain sembahyang, mereka juga bekerja di ladang dan sawah secara bergantian. Begitupun dengan filosofi kerja dalam hikmah Islam yang mana kerja dimaknai sebagai aktivitas ibadah, sehingga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendulang pahala di sisi Tuhan.

Namun memasuki abad modern, pemaknaan kerja menjadi bergeser. Kerja hanya dimaknai sebagai aktivitas mengumpulkan materi (uang) semata, sebab paradigma kerja yang ditanamkan adalah paradigma ala Benjamin Franklin yakni “time is money”. Kemudian pekerja cenderung hanya menjalani pekerjaannya tak lebih dari sekedar rutinitas yang menjenuhkan. Mereka bak mesin yang dipaksa terus bekerja dari senin hingga jumat dengan menyisihkan waktunya selama  8 – 9 jam sehari demi memenuhi tuntutan produksi. Tentunya pihak yang paling menghayati kondisi semacam ini adalah mereka yang bertengger di level kelas buruh kasar atau tak terdidik (uneducated labour).

Akibat dari pola kerja yang kaku seperti itu, para buruh hanya bisa mengharapkan waktu akhir pekan untuk menyegarkan kembali (refreshing) otak dan ototnya.  Sehingga waktu akhir pekan hanyalah semacam kompensasi bagi para buruh karena mereka dapat menggunakannya untuk berlibur dan menghibur diri. Maka lahirlah kebiasaan liburan akhir pekan dan akhirnya terlembagakan di tengah masyarakat modern perkotaan.

Mengenai kebiasaan berlibur akhir pekan ini, Herbert Marcuse (Filsuf Mazhab Frankfurt) menyinggungnya sebagai “masturbasi budaya”. Menurutnya, berlibur akhir pekan merupakan konsekuensi dari kenikmatan yang ditunda – tunda ketika pekerja tak lagi berkuasa atas waktunya karena harus bekerja sesuai SOP (standard of procedure) para pemilik kapital. Lantas, jika sudah seperti ini potret umum para pekerja yang tak memiliki kuasa penuh atas dirinya, maka slogan “kerja membuatmu bebas” hanyalah tinggal kata.

Mewujudkan Kerja Yang Membebaskan

Buya Hamka pernah berpesan bahwa “Jika hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”.  Terang, dari petuah ini kita dapat memetik hikmah  bahwa sejatinya pekerjaan yang dilakukan sepatutnya dapat dimaknai dan dihayati sebagai proses meraih hakikat kehidupan. Sebab yang membedakan kerja manusia dengan kerja mesin adalah kemampuan manusia menghadirkan kesadaran jiwanya dalam melakukan sesuatu atau Martin Heidegger menyebutnya sebagai “proses mengada” dalam waktu otentik (Das Sein).

Oleh karena itu, Marcuse kembali membedakan antara istilah “buruh” dan “pekerja”. Buruh adalah orang yang bekerja dengan menindas jiwanya, kerja hanya semacam bentuk keterpaksaan dan penindasan. Sebaliknya, pekerja adalah orang yang bekerja dengan mengikutsertakan jiwanya, kerja dihayati sebagai sumber kebahagiaan dan kebebasan. Tak berlebihan jika Marx mengatakan bahwa jika kau merasa menderita dalam kerjamu, maka sebenarnya kau berkerja bukan untuk dirimu, tetapi untuk orang lain (bosmu).

Tetapi kesemuanya itu hanyalah omong kosong belaka apabila sistem juga belum mendukung.  Jika standar pengupahan belum mensejahterakan, durasi kerja masih mengekang, serta iklim kerja tak memberdayakan, maka sulit untuk mewujudkan kerja yang membebaskan itu. Mari menengok Google sebagai contoh perusahaan dengan indeks pekerja paling bahagia di dunia. Upah memuaskan, durasi kerja tak mengekang serta iklim perusahaan yang memanjakan adalah beberapa variabel yang masih sulit diterapkan di Indonesia.

Wallahu A’lam.

Advertisements