Cantik itu Luka, Jelek itu Nestapa

Oleh

Achmad faizal

 

Apa itu cantik ? Apa itu jelek ? Standar paras cantik dan jelek itu seperti apa ? Bagaimana mengukur kecantikan dan kejelakan paras seseorang ? Apakah definisi kecantikan dan kejelekan itu bersifat universal ataukah hanya partikular ?. Mungkin demikianlah deretan pertanyaan mendasar yang terlintas di benak pikiran orang – orang yang telah melampui kesadaran materialnya. Maka dari itu, mari kita mencoba menelanjangi atau membedah konsep kecantikan yang selama ini jamak dipahami.

Mendeskripsikan paras yang cantik tentunya memuat unsur relatifisme makna di dalamnya sebab ia sangat tergantung kepada selera individu yang menikmatinya. Namun untuk standar kaum Adam di Indonesia atau pada umumnya di Asia, indikator wanita cantik selalu disandingkan dengan variabel kulit putih, tubuh langsing nan tinggi semampai serta rambut lurus terurai. Yah kira- kira gambarannya seperti Natasha Wilona, Raline Syah atau boleh juga Hanna Annisa. Meskipun variabel tersebut masih umum, tetapi dalam perkembangan kesadaran masyarakat kiwari dalam memaknai cantik fisik itu seperti apa, maka paling tidak terdapat 2 tipologi cantik yakni cantik alami dan cantik kimiawi.

Cantik alami adalah akumulasi dari berbagai variabel diatas seperti kulit putih (tanpa pemutih), tubuh langsing nan tinggi semampai (bukan kurus tak berisi) serta rambut lurus terurai. Sehingga  secara sederhana dapat disimpulkan bahwa semakin banyak variabel – variabel tersebut yang melekat pada tubuh wanita maka semakin “sempurna”lah ia sebagai seorang wanita. Kemudian bagaimana dengan wanita yang berhijab ?.

Untuk wanita berhijab, kita perlu strategi khusus untuk menyingkap apakah fisiknya cantik atau tidak dan itu sangat bergantung pada “kelas iman” yang mereka tempati. Kelas iman pertama kira – kira diisi oleh mereka yang berhijab ala Rina Nose (bongkar – pasang semaunya). Lalu kelas iman kedua diisi oleh wanita – wanita ala “jilboobs”. Adapun untuk kelas pertama dan kedua ini, yah masih relatif mudahlah untuk menjustifikasi apakah ia cantik atau tidak. Sebab tiap lekuk tubuh dan wajahnya masih mudah diakses oleh panca indera. Namun yang sulit kemudian adalah kelas hijab syar’i yang mana hampir setiap lekukan tubuh dan wajahnya tertutupi oleh kain hijab. Maka tidak ada jalan yang terbaik untuk menyingkap kecantikan fisik wanita berhijab syar’i selain dengan meniti jalan ta’arufan (dan kalau cocok lanjutkan ke pernikahan).

Cantik alami pada hakikatnya adalah buah kerjasama yang apik antara kedua orang tuanya atau sederhananya adalah ia cantik karena anugerah genetis yang diperoleh dari keturunannya. Oleh sebab itu, bagi wanita yang mendapat anugerah kecantikan alami itu relatif mudah diidentifikasi (sekaligus diproteksi ) sejak mereka masih usia dini. Jika diusia kanak – kanak saja telah tersingkap kecantikan parasnya, maka dapat diproyeksikan bagaimana paras kecantikannya tatkala ia telah tumbuh dewasa. Yah kira – kira seperti paras dek Jessica Anastasya yang layak disebut sebagai contoh disini sekaligus menutup akhir paragraf ini.

Untuk sampel komunalnya, Indonesia memiliki berbagai daerah khusus penghasil wanita cantik alami seperti Tondano, Tomohon, Minahasa, dan Manado atau anda juga dapat mampir “bermain” ke pemukiman suku Tolaki di Kendari. Saking mudahnya berjumpa dengan wanita cantik di daerah tersebut, baik wanita yang masih “kecil” maupun yang sudah “besar”, konon bagi penderita penyakit mata seperti minus atau rabun senja seketika dapat normal kembali tatkala ia telah berkunjung kesana.

Lalu bagaimana dengan cantik kimiawi ?. Ia pada dasarnya adalah citra kecantikan yang dihasilkan dari proses persenyawaan bahan – bahan kimia. Adapun cantik kimiawi yang dimaksud adalah penggunanaan produk – produk industri kecantikan dan pakaian seperti peralatan kosmetik, baju, sepatu, hijab dan berbagai aksesoris lainnya. Sehingga tak jarang kita menyaksikan ada wanita akan terlihat cantik apabila telah menggunakan make-up, mengenakan model pakaian tertentu, sepatu tertentu atau hijab tertentu misalnya. Sebab variabel – variabel tersebutlah yang sejatinya memanipulasi “kekurangan” pada fisik tubuh dan memancarkan citra cantik pada tubuh wanita tersebut.

Demikianlah potret wanita yang cantik dari polesan bahan kimiawi. Lantas bagaimana dengan wanita yang berparas jelek ?. Dalam kacamata pria – pria Indonesia, paras jelek selalu diasosiasikan dengan variabel kulit cokelat gelap atau berwarna sawo gosong, rambut keriting berombak, tubuh pendek dan gempal serta struktur wajah yang asimetris. Tanpa bermaksud rasis dan menafikkan adanya berbagai kelompok suku di Indonesia terutama bagian timur yang memenuhi beberapa indikator tersebut,

Kemudian hal yang menjadikan konsep jelek itu unik adalah ia ternyata tidak mengenal pendikotomian konsep antara jelek alami maupun jelek kimiawi. Jelek itu tunggal dan mutlak adanya tetapi memiliki gradasi atau tingkatan wujud mulai dari “jelek sekali” hingga “sangat jelek sekali”. Tetapi terlepas dari itu semua, saya masih memegang teguh prinsip lama tentang konsep wanita bahwa pada hakikatnya tidak ada yang namanya wanita jelek di dunia ini, yang ada hanya “lain – lain” dipandang.

Lagi – lagi tulisan ini hanya meretas konsep kecantikan secara fisik semata yang mana definisinya sangat relatif tergantung konstruksi sosial yang melatarinya. Misalnya konsep kecantikan fisik pada suku Surma dan Mursi di Ethiopia. Indikator cantik menurut mereka adalah perempuan yang mampu memasukkan piringan (terbuat dari clay) di bagian bibir mereka, semakin lebar semakin cantik. Lain lagi bagi suku Kayan di Myanmar. Indikator kecantikan fisik mereka adalah dengan memiliki leher yang panjang sehingga sejak kecil leher para perempuan dipakaikan kalung besi dan ditambah setiap tahunnya. Kemudian pria – pria di Afrika lebih tertarik pada wanita yang gemuk, sebab selain cantik, semakin ia gemuk menandakan semakin ia sejahtera.

Cantik dalam Kubangan Eksploitasi

Seperti kisah yang digambarkan secara apik oleh Eka Kurniawan dalam novelnya “cantik itu luka”, ia mengisahkan seorang wanita yang berparas cantik bernama Dewi Ayu yang mampu menjadikan kecantikannya sebagai instrumen untuk mengais rejeki. Kemudian pekerjaan ibunya itu diwariskan oleh anak-anak perempuannya. Melayani setiap hidung belang yang hendak menyalurkan libido seksualnya hingga tak tahu lagi berapa jumlah embrio anak manusia yang lahir tak jelas siapa ayahandanya. Semua petaka itu berasal dari paras yang cantik.

Paras cantik adalah modal awal bagi seorang wanita. Bahkan untuk seorang pelacur sekalipun, paras cantik adalah satu- satunya modal paling potensial yang mampu menarik dan memantik libido sang pria. Sehingga modal kecantikan masih dianggap sebagai alat pamungkas untuk meraih berbagai kepentingan. Entah digunakan oleh wanita itu sendiri sebagai pemilik kecantikan atau sebaliknya justru dimanfaatkan oleh orang lain dengan menjadikan kecantikan tubuh wanita tidak lebih dari sekedar objek kenikmatan semata.

Cantik memiliki teman setia bernama eksploitasi. Jika dalam peradaban Romawi kuno kecantikan wanita hanya dijadikan objek eksploitasi pelacuran, maka kini kecantikan wanita dapat dieksploitasi dalam berbagai dimensi kehidupan. Dalam relasi ekonomi kapitalisme misalnya, kecantikan fisik wanita seringkali menjadi faktor determinan untuk memaksimalkan keuntungan. SPG (Sales Promotion Girls), Bintang iklan sabun, Receptionist Hotel, Pramugari, dan Selebgram adalah diantara beberapa sampel eksploitasi kecantikan tubuh wanita.

Revitalisasi Makna Cantik

Bagi masyarakat materialis – hedonis kini, kecantikan tubuh wanita tak ubahnya seperti komoditas yang diperdagangkan. Esensi dan eksistensinya selaku manusia direduksi tak lebih dari sebuah objek materi ekonomi belaka. Entah dia cantik secara alami maupun cantik secara kimiawi, ia sama – sama sulit lepas dari belenggu eksploitasi baik secara seksual terlebih lagi secara visual.

Satu hal yang perlu menjadi pertanyaan mendasar adalah siapa pihak yang paling berhak menafsirkan konsep kecantikan itu ?. Sebab disadari atau tidak, kebanyakan wanita mudah “termakan” oleh tafsiran artifisial (palsu) industri kecantikan terutama melalui iklan. Sehingga apabila ada wanita yang memiliki tubuh tidak seputih tubuh bintang iklan sabun, rambut tidak selurus dan sehitam rambut bintang iklan sampo, wajah tidak seputih dan sebening wajah iklan bintang pencuci muka maka siap – siaplah tidak dianggap cantik.

Oleh karena itu, mewujudkan tubuh yang cantik dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Maka bagi wanita yang terlahir dalam kelas ekonomi bawahan dan wajah pas – pas-an tidak perlu berkeluh kesah dan resah jika tak mampu bersaing dengan para wanita yang hanya bermodal cantik semata, sebab anda bisa mengembangkan konsep kecantikan dalam dimensi lain terutama penguasaan ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Betapa banyak wanita yang “jelek” secara rupa tetapi mampu memancarkan pesona kecantikannya melalui kecerdasan yang ia miliki. Betapa banyak wanita yang memiliki fisik “biasa saja” tetapi mampu menundukkan kaum adam dengan kursi kekuasaan yang ia duduki.

Hingga dipenghujung tulisan ini, mungkin pembaca wanita menyimpan tanya mengapa hanya realitas tubuh wanita saja yang ditelanjangi sementara pria juga memiliki realitas tubuh layaknya sang wanita – ada pria tampan dan juga pria jelek. Tetapi perlu untuk diketahui dan disadari bahwa di zaman materialis – hedonis kini, realitas fisik dari seorang pria nampaknya tak menjadi prioritas lagi bagi kebanyakan wanita. Seburuk apapun rupa sang pria, jika ia telah mampu mengantar – jemput sang wanita dengan Toyota Fortuner atau Pajero Sport misalnya, maka percayalah rasa cinta sang wanita itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring lunasnya cicilan mobil tersebut. Dibanding mencari pria tampan – putih, tinggi dan berotot – tetapi dibelakang hari ternyata ia seorang Gay, maka mending hidup bersama pria hitam, dekil, pendek tetapi warisannya abadi.

 

Advertisements