Jejak – Jejak yang sangsi untuk diabadikan (Sebuah Catatan Perjalanan KKN Miangas 96)

 

1500039146833.jpg
Sumber Foto : Fotografer

Oleh

Achmad Faizal

 

“Percayalah, tak ada yang lebih mengekalkan

selain menitip kenangan di antara bait-bait tulisan”

 

Kira – kira begitulah kalimat pembuka untuk menggiring pembaca kepada sebuah pemahaman betapa merawat kenangan melalui tulisan adalah kerja – kerja keabadian. Maka melalui tulisan kali ini, saya hendak bermaksud mengabstraksikan berbagai fenomena yang sempat terperangkap oleh panca indera sekaligus menghimpun jejak – jejak perjalanan yang menolak untuk diabadikan. Jejak- jejak itu akan bercerita tentang sebuah kisah perjalanan oleh mahasiswa KKN Miangas angkatan 96 Unhas.

Jika hendak menelusuri kembali lorong waktu, maka kisah perjalanan KKN Miangas angkatan 96 setidaknya telah dimulai jauh sebelum jadwal pemberangkatan dikumandangkan. Awal kisah tersebut paling tidak telah dirajut pada pertengahan bulan Ramadhan, tepat sehari setelah pengumuman kelulusan peserta KKN Miangas oleh badan resmi P2KKN Unhas. Sebagai sentuhan awal, maka pertemuan perdana (first gathering) dihadirkan sebagai upaya kolektif menandai awal dimulainya kisah ini. Diawali saling tegur sapa hingga menyatukan gagasan di bawah atap rumah bersama. Kira kira begitulah alur skenario di awal-awal kisah ini.

Tak ada (nyanda  kata orang Miangas) momen istimewa yang dapat saya lukiskan dalam awal tulisan ini selain deskripsi umum mengenai hari –hari pra keberangkatan yang mana hanya berisi seputar proses identifikasi diri antar sesama (baca ; PDKT), usaha pencarian dana, makan bersama, hingga rebutan status siapa yang paling berhak hidup bersama dia.

Sebagai salah satu keunikan mahasiswa generasi millennial pada umumnya yang juga berlaku pada peserta KKN Miangas 96 kali ini, bahwasanya mereka mampu hidup di 2 alam yang berbeda layaknya binatang amfibi, yakni dunia nyata dan dunia maya. Dalam dunia nyata, kami dinaungi oleh rumah bersama (baca : sekretariat pinjaman) sementara dalam dunia maya kami didekatkan oleh sebuah grup social media.

Setelah jadwal keberangkatan diumumkan yang menunjukkan tepat pada angka 10 di bulan juli 2017, maka masing – masing dari kami bergegas mempersiapkan bekal entah yang bersifat kolektif maupun pribadi. Meskipun saya meyakini bahwa sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan, namun bekal materi juga menjadi sangat penting untuk dijadikan teman selama bertugas melakoni drama perjalanan KKN Miangas 96 kali ini.

Dari derasnya arus lautan hingga jebakan zona nyaman

Saya hendak membagi cerita ini kedalam dua jenis catatan yang berbeda. Hal demikian berdasar kepada dua jenis kapal yang ditumpangi pun berbeda sehingga sedikit banyak mempengaruhi pola interaksi rekan – rekan KKN berikut dinamika yang ada di dalamnya. Plot cerita pertama mengisahkan catatan perjalanan dari Makassar menuju Bitung dengan jasa tumpangan kapal Dorolonda, sementara plot cerita bagian kedua akan mengisahkan catatan perjalanan dari Bitung ke Miangas dengan tumpangan kapal Meliku Nusa.

Ahad/Senin, 9/10 Juli 2017

Jarum jam telah menunjukkan angka 11 malam. Masing – masing perias kehidupan menjalankan lakonnya dengan menawan. Bintang – bintang dengan kilau cahayanya, bulan dengan terang sinarnya, bahkan sesekali senja hendak menampakkan kembali senyumnya yang telah ditenggelamkan oleh pekatnya sang malam. Sementara di sudut bumi lain, beberapa peserta KKN Miangas 96 dilanda kecemasan, kelaparan hingga kelelahan. Jika dilacak sebabnya, maka semua akan bermuara pada faktor penundaan keberangkatan (delay) kapal yang sedari awal telah dijanjikan pada pukul 02.00 dini hari lalu diundur ke pukul 09.00 pagi. Barangkali momen penundaan keberangkatan (delay) sebuah moda transportasi di Indonesia telah menjadi santapan umum bagi calon penumpangnya.

Untung saja berbagai keistimewahan diberikan oleh pihak PT.PELNI seperti rute bebas macet menuju dek kapal hingga penyediaan ruangan khusus bagi seluruh rekan- rekan KKN agar tidak saling berjauhan secara fisik (meskipun hati masih sulit untuk berdekatan). Maka dengannya sedikit banyak telah membayar kekecewaan dan keletihan yang tengah mendera saat itu.

Sesaat memasuki pukul 09.00 wita, ABK kapal memberikan aba – aba kepada seluruh penumpang, pedagang hingga buruh harian agar mengindahkan pemberitahuan yang keluar dari corong pengeras suara. Berhubung kapal segera berlabuh meninggalkan dermaga sandaran, maka kiranya seluruh pedagang dan buruh harian segera turun melepas kepergian penumpang. Kira – kira begitulah tafsiran saya atas isi pemberitahuan tersebut.

Singkat cerita, selama dalam perjalanan dari pelabuhan Makassar menuju pelabuhan Bau-Bau sebagai daerah persinggahan perdana, tidak ada momen bersejarah yang dapat saya ukirkan kepada pembaca kecuali gambaran mimik wajah yang tengah keletihan akibat aktivitas angkut barang yang kemudian terbayarkan oleh pulasnya tidur siang hingga tak terasa pengumuman makan siang oleh pantri (lokasi mengambil makanan) terlewatkan. Selang beberapa jam, waktu telah menunjukkan angka 11 malam dan si Dorolonda akhirnya menyandarkan diri di pangkuan dermaga pelabuhan Bau-Bau.

Selasa, 11 Juli 2017

Tak ada momen berharga yang patut untuk diabadikan selama si Dorolonda beristirahat di pangkuan dermaga pelabuhan Bau- Bau. Cukuplah aktivitas penambahan penumpang yang berlebihan dengan berbagai tentengan barang penuh kesesakan menjadi saksi betapa akumulasi keuntungan menjadi visi utama perusahaan kapal ketimbang maksimalisasi pelayanan penumpang. Tidur di sudut-sudut tangga ataupun di tengah mushallah kapal tidak jadi masalah selama si penumpang dapat tiba di tempat tujuan dengan selamat sentosa.

Setelah kurang lebih 2 jam transit, tepat pukul 01.00 dini hari Si Dorolonda melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Namlea, pulau Buru. Ada beberapa hal lumrah yang dilakukan oleh si Penumpang tatkala kendaraan yang ditumpanginya mengalami ketidakstabilan, sebut saja  PMS (pusing, muntah dan susahkan orang). Jarak yang memisahkan antara Bau-Bau dan Namlea ternyata menyita waktu yang cukup panjang (22 jam perjalanan) ditambah rute yang dilewati cukup menegangkan yakni berlayar di atas laut banda (salah satu laut terdalam di dunia dengan kedalaman mencapai 8000 m), sehingga aktivitas PMS pun tak dapat dihindarkan oleh sebagian rekan – rekan KKN.

Tatkala Si Dorolonda berhasil menyandarkan tubuhnya di pangkuan dermaga Namlea pukul 23.00 waktu Indonesia Timur, beberapa rekan KKN menuju dek kapal paling atas untuk berpose mengabadikan diri di celah – celah pekatnya sang malam. Di antara sela-sela waktu berpose tersebut, sesekali saya melontarkan pertanyaan sederhana kepada rekan rekan KKN sekalian. Apa yang kau ketahui tentang pulau Buru ini ?. Kira – kira begitulah pertanyaannya yang sempat terlintas di pikiran saya saat itu sembari mengenang bacaan sejarah para tapol ataupun aktivis PKI 65 yang diasingkan oleh rezim orde baru di pulau buru.

Rabu, 12 Juli 2017

2 jam istirahat cukup. Begitulah kalimat yang tepat untuk melukiskan keletihan si Dorolonda yang berangkat dari Jakarta untuk mengarungi derasnya arus lautan hingga melewati laut Maluku. Setelah melakukan transit di pelabuhan Namlea selama kurang lebih 2 jam, ia segera berlabuh kembali menuju kota Ambon. Kira- kira pukul 07.00 pagi waktu Indonesia timur, kapal berhasil mendapatkan sandaran baru. Saya pun segera memperbaharui status socialmedia yang bertuliskan “sedang berada di kota Ambon Manise”. Hal ini sekaligus sebagai pembuktian bahwa saya pernah mengunjungi kota tersebut (meskipun hanya di sekitaran pelabuhannya saja).

20229048_1599597350052319_3269466844256208662_n
Salah satu sudut pelabuhan kota Ambon. Foto oleh : Achmad Faizal

 

Untuk menguatkan pembuktian itu, maka saya bersama beberapa rekan KKN menyempat diri untuk bersinggah di Gong Perdamaian (World Peace Gong) yang berlokasi sekitar 1 km dari pelabuhan Ambon. Hingga waktu hendak memasuki pukul 08.30, maka saya segera bergegas kembali menuju kapalmengingat jam 9 pagi adalah waktu yang disepakati oleh Nahkoda beserta ABKnya untuk berlabuh kembali menuju persinggahan berikutnya yaitu Ternate.

20258121_1599597136719007_3425609982371752168_n
Salah satu Gong Perdamaian Dunia yang berada di Kota Ambon. Foto oleh : Achmad Faizal

Jarak yang memisahkan antara kota Ambon dan kota Ternate kurang lebih 21 jam. Sebagai mahasiswa yang mendaku agent of change dan moral force, maka aktivitas yang dilakukan untuk mengisi waktu luang selama perjalanan sebisa mungkin untuk dipadatkan. Mulai dari kartu jenderal, domino, uno, hingga war wolf adalah deretan aktivitas yang dilakoni oleh sebagian besar dari kami. Bayangkan, betapa produktifnya waktu kami diisi oleh permainan tersebut. Sekiranya gawai (gadget) kami tetap terhubung dengan jaringan internet, maka tentu selaku mahasiswa generasi millennial memilih untuk bermain social media yang dinilai jauh lebih produktif.

Kamis, 13 Juli 2017

Kira- kira pukul 06.00 pagi, akhirnya pelabuhan Ternate telah menampakkan wajahnya dari kejauhan. Sesaat sebelum bersandar, beberapa rekan- rekan KKN mengabadikan diri dengan berlatarkan pemandangan yang dinilai cukup menarik serta berpotensi besar untuk mendapatkan banyak like di instagram. Jika anda lihai dan berpengalaman dalam memotret objek, maka momen saat melewati gunung gamalama adalah objek yang haram untuk dilepaskan. Dan jika berhasil menangkap momen tersebut, maka hasilnya persis dengan latar gambar uang seribu rupiah versi lama.

Tak banyak waktu yang diberikan oleh Nahkoda kepada si Dorolonda untuk bersandar. Tepat pukul 09.30 waktu setempat, akhirnya ia melanjutkan tugasnya untuk mencari sandaran baru di kota Bitung. Perjalanan Ternate ke Bitung hanya menyita waktu kurang lebih 7 jam sehingga diantara waktu jeda tersebut, kami gunakan untuk membereskan kembali segala perlengkapan pribadi maupun peralatan kolektif serta briefing untuk menyusun manajemen logistik tatkala kapal tengah bersandar.

20229266_1599597606718960_1565707897345968951_n
Potret wajah pelabuhan Ternate. Foto oleh : Achmad Faizal

Jam tangan saya menunjuk pukul 17.00 wita. Di seberang dermaga terlihat para penumpang tengah antri berdesak desakan menanti pintu dibuka oleh petugas pelabuhan. Sementara di sudut lain pelabuhan, senja menggumam menjadi saksi betapa tenaga buruh rela dieksploitasi demi mengantongi rupiah untuk sesuap nasi.

 

 

Bersambung…